Beredar rumor heboh mengenai dugaan delapan Warga Negara Indonesia (WNI) yang direkrut menjadi bagian dari militer Rusia. Isu ini mendadak viral setelah badan Intelijen Ukraina (Foreign Intelligence Service of Ukraine) merilis data identitas WNI yang diklaim tergiur tawaran tersebut.
Modus Iming-Iming Gaji Gede & Tugas Non-Kombatan
Berdasarkan laporan Intelijen Ukraina, modus perekrutan ini biasanya menyasar warga asing yang diiming-imingi benefit fantastis:
Gaji dan Penghasilan Tinggi: Dijanjikan bayaran menggiurkan.
Janji Tugas Amankan Diri: Diinformasikan cuma bakal ngerjain tugas non-combat (bukan di garis depan perang).
Fasilitas Tambahan: Tawaran percepatan jadi warga negara (WN) Rusia sampai tunjangan sosial.
Banyak korban yang diduga tergiur tanpa paham risiko asli kalau mereka sebenarnya bakal dikirim langsung ke area konflik mematikan.
Komisi I DPR & Kemlu Buka Suara
Menanggapi kabar liar ini, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksonar, minta semua pihak buat nggak langsung ambil kesimpulan sebelum ada verifikasi resmi.
"Tawaran pekerjaan dengan iming-iming penghasilan tinggi dapat dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk merekrut WNI tanpa memberikan informasi yang utuh mengenai risiko dan konsekuensinya."
— Dave Laksono, Wakil Ketua Komisi I DPR RI.
Poin Utama Respon Pemerintah & DPR:
Sedang Diverifikasi Kemlu: Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, mengonfirmasi pihaknya bareng KBRI di Rusia dan lembaga terkait lagi ngecek kebenaran identitas serta status kewarganegaraan 8 orang tersebut.
Kewaspadaan Locker Luar Negeri: DPR mewanti-wanti anak muda/masyarakat agar lebih aware sama loker (lowongan kerja) di area rawan konflik yang pakai iming-iming gaji nggak masuk akal.
Usut Tuntas Jaringan Rekrutmen: Kalau terbukti ada unsur penipuan atau eksploitasi, pemerintah bakal menindak tegas jaringan/agen yang terlibat.