Ribuan warga di berbagai wilayah Kalimantan Barat (Kalbar), mulai dari Kota Pontianak hingga Kabupaten Ketapang, menggelar Salat Istisqa secara serentak untuk memohon diturunkannya hujan. Salat sunnah berjemaah ini dilaksanakan di tengah kepungan kabut asap pekat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta musim kemarau panjang yang belum menunjukkan tanda-tanda usai.
Kondisi kualitas udara yang memburuk membuat sebagian besar jemaah—mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia—tampak mengenakan masker saat menjalankan ibadah di ruang terbuka, seperti halaman masjid agung dan lapangan daerah setempat.
Dampak Musim Kemarau dan Karhutla
Musim kemarau yang melanda wilayah Kalimantan Barat selama lebih dari dua bulan terakhir telah menyebabkan berkurangnya intensitas curah hujan secara drastis. Fenomena ini memicu munculnya titik-titik panas (hotspot) yang berujung pada kebakaran lahan di kawasan gambut maupun perkebunan.
Asap tebal hasil pembakaran tersebut merambah ke permukiman warga dan jalur transportasi. Selain menurunkan jarak pandang, kualitas udara di beberapa kawasan telah memasuki kriteria tidak sehat dan berisiko memicu meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Ikhtiar Spiritual dan Dorongan Respons Kebencanaan
Pelaksanaan Salat Istisqa ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, alim ulama, jajaran pemerintah daerah, serta personil aparat keamanan. Dalam khotbahnya, para khatib mengajak masyarakat untuk terus memanjatkan doa, melakukan introspeksi diri, serta menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Selain upaya spiritual, pemerintah daerah bersinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan relawan pemadam kebakaran terus mengupayakan pemadaman darat maupun udara (water bombing) di titik-titik api yang sulit dijangkau. Warga juga diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta selalu menggunakan masker guna mengantisipasi paparan kabut asap.