Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Prof. Mohammad Nuh, baru saja membocorkan rahasia dapur pelaksanaan Muktamar. Ternyata ada alasan penting di balik keputusan NU untuk mengubah gaya kepemimpinan dan cara pemilihan petingginya.
Bye-Bye One Man One Vote, Hello Musyawarah Kiai
Kalau dulu pemilihan Ketum PBNU memakai sistem one man one vote (diadu langsung dan rawan bikin kubu-kubuan), di Muktamar kali ini mekanismenya diubah total.
Sekarang, pengisian posisi penting seperti Rais Aam dan Ketua Umum PBNU diserahkan penuh ke sistem musyawarah bernama Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Sistem ini berisi 9 kiai sepuh pilihan dari cabang-cabang NU yang punya basyirah (keilmuan dan kebeningan mata hati) untuk menentukan pemimpin terbaik.
Kenapa Sistemnya Diubah?
Gaya Kepemimpinan Berubah: Zaman sekarang tantangannya makin kompleks. Era personal leadership udah lewat, sekarang saatnya collective leadership (kerja tim).
Mencegah Drama & Perpecahan: Sistem kompetisi adu voting (one man one vote) berisiko memicu polarisasi. Biasanya yang menang ambil semuanya (the winner takes all), sementara figur potensial di kubu kalah jadi kebuang.
Melalui Voting Perubahan (73% Setuju): Mengubah tradisi bukan hal gampang. Setelah perdebatan panjang di internal, diputuskan lewat voting aturan di mana 73% peserta menghendaki perubahan ke sistem musyawarah.
Hasil Akhir Muktamar ke-35 NU
Dari musyawarah mufakat 9 kiai sepuh anggota AHWA ini, Muktamar ke-35 NU di Jombang resmi menetapkan kepengurusan baru untuk periode 2026–2031:
Jabatan | Pemimpin Terpilih |
Rais Aam (Syuriah/Pimpinan Tertinggi) | KH Miftachul Akhyar |
Ketua Umum (Tanfidziyah/Eksekutif) | KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) |