KATHMANDU — Bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet (China). Dampak kerusakan yang ditimbulkan sangat masif, menimbun permukiman warga, merusak infrastruktur pendukung, serta memutus jalur akses utama di kawasan Pegunungan Himalaya.
Data terkini dari otoritas penanggulangan bencana setempat mencatat jumlah korban jiwa telah mencapai lebih dari 580 orang. Sementara itu, sekitar 2.400 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.
Penyebab Bencana: Hasil Analisis USGS
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengonfirmasi bahwa pemicu utama bencana ini bukanlah gempa bumi tektonik, melainkan runtuhnya gletser (glacier collapse) di kawasan pegunungan tinggi. Runtuhan es dan material batuan tersebut menyumbat aliran sungai sebelum akhirnya jebol dan menciptakan aliran material pekat (debris flow) yang menerjang kawasan hilir.
Sinyal getaran yang sempat terdeteksi oleh stasiun seismik dipastikan berasal dari massa es dan tanah skala besar yang runtuh secara mendadak.
Dampak Kerusakan dan Korban Hilang
Gelombang air bercampur lumpur menerjang sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi dan Trishuli di Nepal, serta meluas hingga ke Distrik Gyirong di wilayah Tibet. Jalur transportasi utama yang menghubungkan Kathmandu dan Lhasa terputus total.
Sektor Wisata & Proyek: Di antara ribuan korban yang belum ditemukan, tercatat ratusan wisatawan asing serta ratusan pekerja proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sepanjang aliran sungai.
Kondisi Lapangan: Endapan lumpur tebal menutupi struktur bangunan hingga lantai bawah, menyulitkan akses alat berat menuju titik-titik evakuasi.
Operasi Penyelamatan dan Potensi Bahaya Susulan
Tim SAR gabungan dari Nepal dan China diturunkan ke lokasi bencana dengan mengandalkan helikopter untuk mengevakuasi korban selamat di wilayah terisolasi. Bantuan logistik darurat mulai didistribusikan ke kamp-kamp pengungsian sementara.
Para pakar mengimbau warga dan tim penyelamat untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang banjir susulan. Sisa-sisa material yang masih membendung hulu sungai berisiko jebol kembali apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di area puncak.